Refleksi World Cleanup Day KIMA

Dari Halaman Pabrik ke Masa Depan Hijau

Refleksi World Cleanup Day di Kawasan Industri Makassar

Oleh: Alif Usman Amin, Direktur Operasional & Pendukung PT KIMA

Sabtu pagi, 20 September 2025, suasana di Kawasan Industri Makassar berbeda dari biasanya. Bukan deru mesin pabrik atau lalu lintas truk kontainer yang mendominasi, melainkan suara sapu lidi yang menyapu halaman, gelak tawa pekerja yang berbaur dengan warga, dan derap langkah bersama mengangkat tumpukan sampah.

Hari itu, PT Kawasan Industri Makassar (KIMA) menggelar Gerakan Gotong Royong Kerja Bakti Massal, bagian dari peringatan World Cleanup Day (WCD) 2025 sekaligus tindak lanjut Surat Edaran Walikota Makassar Nomor 277 Tahun 2025. Surat edaran ini menyerukan seluruh lapisan masyarakat, termasuk kawasan industri, untuk turun tangan dalam aksi bersih-bersih serentak di seluruh kota.

Di KIMA, kegiatan dipusatkan pada tiga titik strategis. Pertama, kantor pusat, simbol komitmen manajemen bahwa pengelolaan lingkungan adalah tanggung jawab utama, bukan sekadar formalitas. Kedua, depo kontainer, simpul logistik kawasan yang sehari-hari padat aktivitas bongkar muat dan rawan timbulan sampah. Ketiga, gedung instalasi pengolahan air limbah (WWTP), jantung sistem sanitasi kawasan yang menjadi penentu kualitas air dan lingkungan. Dengan memilih tiga titik ini, KIMA ingin menegaskan bahwa gotong royong kebersihan bukan hanya seremonial, tetapi menyentuh urat nadi kawasan industri: manajemen, logistik, dan lingkungan hidup.

Krisis Sampah: Global hingga Makassar

WCD adalah gerakan dunia yang kini melibatkan jutaan relawan di lebih dari 190 negara. Data global menunjukkan produksi plastik mencapai 435 juta ton per tahun, dengan tingkat daur ulang masih di bawah 10%. Indonesia pun menghadapi masalah serupa: timbulan sampah nasional 35 juta ton per tahun, dengan sekitar 40% belum terkelola dan tingkat daur ulang baru 22%. Data ini menunjukkan masih panjang jalan yang harus ditempuh agar Indonesia benar-benar masuk jalur circular economy.

Makassar menghadapi tantangan nyata. TPA Antang menampung 900–1.300 ton sampah per hari, dengan gunungan yang telah mencapai 40–50 meter. Risikonya bukan hanya lingkungan, tetapi juga kesehatan dan sosial. Jika tidak ada perubahan sistemik, krisis sampah kota akan semakin parah.

Gotong Royong sebagai Titik Balik

Dalam konteks itulah kegiatan gotong royong di kawasan industri mendapat makna lebih dalam. Di kantor pusat KIMA, manajemen dan pekerja bergabung menyapu halaman, memungut plastik, hingga menanam tanaman hias. Pesannya jelas: komitmen lingkungan harus dimulai dari ruang kerja sehari-hari.

Di depo kontainer, para pekerja logistik yang biasanya sibuk dengan bongkar muat turut serta mengumpulkan sampah kardus, plastik pembungkus, hingga sisa kayu palet. Aktivitas ini menegaskan bahwa efisiensi logistik harus berjalan seiring dengan pengelolaan limbah yang baik.

Sementara di gedung WWTP, para teknisi dan staf kebersihan membersihkan area sekitar instalasi, mengecek saluran, dan memastikan sistem pengolahan air limbah berfungsi optimal.

Gotong royong serupa juga telah dilakukan rutin setiap minggu oleh PT KIMA. Program ini diberi nama GEMPITA, dan digagas untuk membudayakan kepedulian lingkungan dan kebersihan pada area kerja. Sesuai namanya, GEMPITA adalah akronim dari Gerakan Membersihkan Pekarangan Ta’. Maka itulah, pekarangan kantor atau pabrik tenantlah yang menjadi lokasi kegiatan.

Program ini sudah berjalan selama dua tahun, sehingga sudah banyak dampak positif yang dirasakan. Bukan hanya pekarangan yang bersih atau lahirnya budaya bersih pada karyawan dan tenant, namun terasa juga pada makin cairnya komunikasi Manajemen PT KIMA dengan tenant dan investor di KIMA. Banyak ide dan persoalan tidak harus dibahas lewat undangan rapat diforum formal, namun cukup dengan pegang sapu lidi dan ditemani gorengan hangat.

Aksi simbolik dan program ini menunjukkan bahwa keberlanjutan kawasan bukan hanya soal tampilan luar, melainkan fungsi teknis yang menjaga lingkungan dari pencemaran.

Dari Aksi Sehari ke Agenda Hijau

Melalui aksi gotong royong ini, Kawasan Industri Makassar ingin mengirim pesan: kebersihan kawasan adalah fondasi daya saing. Tidak mungkin berbicara tentang investasi, ekspor, dan pertumbuhan industri jika lingkungan di sekitar pabrik kotor dan penuh risiko.

Kami menargetkan pengurangan sampah dari KIMA ke TPA minimal 30% dalam tiga tahun ke depan, membangun fasilitas daur ulang bersama (Material Recovery Facility) di lokasi TPS 3R, mengembangkan komposting dan RDF untuk sampah organik dan residu, menerapkan efisiensi energi serta solar panel pada atap gudang dan gedung, serta membuat dashboard lingkungan berbasis data yang transparan.

Lima agenda ini bukan sekadar jargon, tetapi peta jalan konkret agar Kawasan Industri mampu bergerak menuju ekonomi sirkular.

Selaras dengan Arah Regulasi Nasional

Langkah KIMA juga selaras dengan dinamika nasional. Saat ini, Rancangan Undang-Undang (RUU) Kawasan Industri tengah dibahas. Draf usulan menegaskan bahwa setiap kawasan industri wajib memiliki AMDAL, IPAL, dan jaringan persampahan. Kawasan juga diwajibkan menyediakan infrastruktur dasar hijau seperti energi terbarukan, sanitasi, telekomunikasi digital, dan fasilitas penelitian.

RUU ini bahkan menyiapkan insentif fiskal dan nonfiskal bagi kawasan industri yang menjalankan praktik berkelanjutan, sekaligus menekankan pemberdayaan masyarakat sekitar melalui pelatihan, pendidikan, dan kemitraan dengan UKM.

Dengan demikian, aksi KIMA hari ini adalah gambaran mini dari arah regulasi nasional yang sebentar lagi menjadi undang-undang.

Dari Halaman Pabrik ke Masa Depan Hijau

World Cleanup Day mungkin hanya berlangsung sehari, tetapi semangatnya harus hidup sepanjang tahun. Dari kantor pusat yang bersih dan tertata, depo kontainer yang lebih rapi, hingga WWTP yang terus dijaga kinerjanya—semua itu adalah simbol transformasi hijau yang sedang dijalankan Kawasan Industri Makassar.

Karena industri tidak bisa tumbuh di bumi yang sakit. Dari halaman pabrik di Makassar, kami ingin menegaskan bahwa masa depan hijau bukan sekadar cita-cita, melainkan sebuah kewajiban.

Sebuah warisan yang harus dijaga demi keberlanjutan, daya saing, dan generasi yang akan datang.

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *