Oleh: Alif Usman Amin, Direktur Operasional dan Pendukung PT KIMA
Sudah lebih dari dua pekan sejak Upacara Hari Pahlawan berlangsung di halaman kantor PT Kawasan Industri Makassar, bagian dari Holding BUMN Danareksa. Waktu sudah terus berjalan, aktivitas kawasan sudah kembali seperti biasa, tetapi suasana pagi upacara itu masih tertinggal dalam ingatan banyak orang di sini. Upacaranya sederhana, tidak ada seremonial mewah, hanya bendera merah putih naik perlahan, lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan bersama, dan sirene hening cipta yang membuat Kawasan Industri Makassar yang biasanya ramai mendadak benar-benar senyap.
Momen itulah yang kemudian terasa panjang. Selama satu menit, semua orang berhenti dari rutinitasnya dan seakan diberi kesempatan untuk mengingat, bahwa negeri ini pernah diperjuangkan dengan seluruh tenaga. Sekarang adalah tanggung jawab kita semua untuk menjaganya agar tetap utuh dan mampu berperan strategis dalam era industri global.
Amanat pembina upacara pagi itu menyampaikan kalimat yang sederhana tetapi menancap kuat, pahlawan tidak selalu terlihat. Banyak pahlawan hidup di sekitar kita, hanya saja kita jarang menyebut mereka seperti itu. Kalimat itu terasa sangat relevan untuk tempat seperti Kawasan Industri Makassar. Kita sering mengagumi tokoh besar dalam sejarah, tetapi jarang memperhatikan orang-orang yang memungkinkan industri ini tetap berjalan dari hari ke hari.
Di fasilitas WWTP misalnya, ada petugas yang mengawasi pengolahan air limbah sejak pagi hingga malam. Mereka memastikan proses industri tidak merusak lingkungan sekitar. Mereka jarang tampil di foto portal perusahaan, tetapi kelalaian sekecil apa pun dari mereka bisa berdampak besar bagi kawasan dan masyarakat sekitar. Di reservoar dan jaringan air bersih, ada tim yang bekerja memastikan suplai air ke tenant tetap stabil. Suplai air yang kita anggap wajar itu ternyata ada karena mereka menjaga tekanan, kualitas, dan keberlangsungan jaringan setiap hari.
Di depo kontainer, aktivitas logistik berjalan tanpa henti. Petugas mengatur kontainer, memeriksa dokumen, dan mengoordinasikan kendaraan agar alur produksi dan distribusi tenant tidak terhambat. Tidak ada yang menyoroti beban kerja mereka, tetapi kalau depo berhenti satu jam saja, operasional industri bisa langsung terganggu. Hal serupa terlihat pada tim pemeliharaan jalan kawasan dan drainase. Jalan yang rapi, taman yang terawat, dan selokan yang lancar bukan terjadi begitu saja. Ada orang-orang yang datang sebelum kita tiba di kantor untuk memastikan semuanya siap digunakan.
Mereka semua bekerja tanpa sorotan. Tidak ada upacara untuk menyebut nama-nama mereka. Tidak ada panggung khusus untuk merayakan kontribusi mereka. Namun Kawasan Industri Makassar ini justru ditopang oleh pekerjaan mereka yang mungkin terlihat biasa, tetapi sebenarnya sangat penting. Kalau kepahlawanan didefinisikan sebagai memberi tanpa menuntut imbalan, maka banyak pekerja di kawasan ini sebenarnya sedang melakukan itu setiap hari.
Sesudah upacara Hari Pahlawan selesai, semua kembali ke tugas masing-masing. Mesin mulai terdengar lagi, truk kontainer kembali masuk dan keluar, dan pertemuan kantor kembali berlangsung. Tidak ada perubahan fisik yang terlihat, tetapi banyak orang sepakat bahwa upacara itu membuat kita melihat pekerjaan kita dari sudut yang berbeda. Kita sadar bahwa pekerjaan sehari-hari ini ternyata punya makna lebih besar daripada sekadar rutinitas.
Setiap orang yang bekerja menjaga fasilitas kawasan, menjaga suplai air, mengolah limbah, mengatur logistik, membersihkan gedung, menjaga keamanan, mengelola administrasi, hingga menangani kebutuhan pelanggan di kantor, semuanya sedang memegang satu bagian penting dari stabilitas ekonomi dan keberlangsungan banyak keluarga. Nilai itu yang mungkin selama ini luput dari perhatian, karena kita sudah terlalu terbiasa menyebut “bekerja” seperti sesuatu yang biasa saja.
Hari Pahlawan mengingatkan kita bahwa perjuangan memang berubah bentuk. Masa perjuangan fisik melawan penjajahan sudah selesai. Tetapi perjuangan menjaga Indonesia agar tetap kuat, stabil, aman, dan dihormati bangsa lain masih berlangsung, dan hal ini dilakukan lewat aktifitas yang kita lakukan setiap hari. Disiplin datang tepat waktu, bekerja dengan jujur, menjaga lingkungan perusahaan tetap aman, dan menjalankan tugas tanpa perlu diperintah ulang juga bagian dari cinta tanah air.
Itu sebabnya, pahlawan hari ini tidak harus terkenal. Tidak harus punya nama jalan. Tidak harus jadi tokoh nasional. Pahlawan hari ini bisa siapa saja yang menjalankan tugasnya dengan benar, bahkan ketika tidak ada yang melihat. Dan jika ada tempat yang paling dekat untuk menemukan contoh pahlawan zaman sekarang, Kawasan Industri Makassar adalah salah satunya.
Hari Pahlawan memang sudah berlalu, tetapi maknanya tidak berhenti pada tanggal 10 November. Maknanya justru terasa di hari-hari setelah itu, ketika kita kembali ke rutinitas dan menyadari bahwa apa yang kita kerjakan setiap hari ikut menentukan arah masa depan Kawasan Industri Makassar ini, dan pada akhirnya, ikut menentukan masa depan negeri ini juga.
Pahlawan masa lalu memperjuangkan kemerdekaan. Pahlawan masa kini memastikan kemerdekaan itu memberi kehidupan yang layak. Dan siapa pun yang menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab, baik di WWTP, reservoar, depo kontainer, kantor pusat, lapangan operasional, atau fasilitas lainnya, sedang mengambil bagian dalam perjuangan itu.
Indonesia berdiri hari ini bukan hanya karena sejarah, tetapi karena orang-orang yang bekerja sungguh-sungguh untuk masa depannya.




















