Menjelang penghujung tahun 2025, PT Kawasan Industri Makassar bagian dari Holding BUMN Danareksa

Refleksi Akhir Tahun, KIMA Gelar Pengajian Bersama

Menjelang penghujung tahun 2025, PT Kawasan Industri Makassar bagian dari Holding BUMN Danareksa, menyelenggarakan pengajian dan doa bersama sebagai wujud rasa syukur atas perjalanan, capaian perusahaan sepanjang tahun dan ikhtiar bersama menyongsong tahun 2026. Kegiatan ini diikuti oleh Dewan Komisaris, Direksi, karyawan, serta anak-anak panti asuhan dan tahfiz Al-Qur’an.

Momentum ini menjadi ruang refleksi bersama untuk menenangkan diri, menengok kembali setiap langkah yang telah dilalui, serta memperkuat kebersamaan dalam suasana yang khidmat dan sederhana. Doa yang dipanjatkan menjadi ikhtiar spiritual agar setiap upaya yang telah dan akan dijalani senantiasa diberi kemudahan dan keberkahan.

Direktur Utama PT Kawasan Industri Makassar (KIMA), Alif Abadi, bersama Kepala Divisi Pemasaran

Perkuat Daya Saing Industri, KIMA Sambut Hadirnya PT Sanno Abadi Cemerlang

Direktur Utama PT Kawasan Industri Makassar (KIMA), Alif Abadi, bersama Kepala Divisi Pemasaran dan Kepala Divisi Pengelolaan Lingkungan menghadiri kegiatan Grand Opening Workshop Tempered Glass PT Sanno Abadi Cemerlang di Kawasan Industri Makassar.

Peresmian yang dilakukan oleh Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, bersama Wakil Wali Kota Makassar, Aliyah Mustika Ilham, menjadi penanda hadirnya pabrik tempered glass pertama dan satu-satunya di Sulawesi Selatan.

Kehadiran PT Sanno Abadi Cemerlang sebagai tenant KIMA diharapkan dapat memberi kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi daerah, membuka lapangan kerja, serta menambah nilai bagi ekosistem industri di kawasan. Hal ini sekaligus memperkuat posisi KIMA sebagai kawasan industri yang strategis, kompetitif, dan semakin diminati investor.

Senin, 22 Desember 2025, PT Kawasan Industri Makassar, sebagai bagian dari Holding BUMN Danareks

Perkuat Sinergi Industri, PT KIMA dan PT BMI Perpanjang Kerja Sama Lahan Industri

Senin, 22 Desember 2025, PT Kawasan Industri Makassar, sebagai bagian dari Holding BUMN Danareksa, melaksanakan penandatanganan Akta Perpanjangan Perjanjian Pemanfaatan Tanah Industri antara PT Kawasan Industri Makassar (KIMA) dan PT Bumi Menara Internusa (BMI) yang bertempat di Ruang Rapat Kantor PT KIMA.

Kegiatan penandatanganan ini dihadiri oleh Alif Abadi selaku Direktur Utama, Kepala Divisi Sekretariat Perusahaan, Kepala Divisi beserta Tim Pemasaran PT KIMA, serta jajaran manajemen PT Bumi Menara Internusa.

1-1

PT KIMA Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Banjir dan Tanah Longsor di Sumatera

Program KIMA Peduli PT Kawasan Industri Makassar (KIMA)—bagian dari Holding BUMN Danareksa, telah menyalurkan bantuan kemanusiaan bencana alam di Sumatera (Aceh, Sumatera Utaran dan Sumatera Barat) kepada masyarakat Kota Pariaman—Sumatera Barat. Bantuan tersebut diserahkan oleh Bapak Alif Usman Amin—Direktur Operasional dan Pendukung PT KIMA dan diterima langsung oleh Bapak Yota Balad—Wali Kota Pariaman di Posko Utama BPBD Kota Pariaman pada hari Minggu, 7 Desember 2025.

Penyaluran bantuan ini merupakan bagian dari komitmen PT KIMA sebagai perusahaan pengelola kawasan industri yang tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi, tetapi juga memegang tanggung jawab sosial terhadap masyarakat Indonesia, terutama ketika terjadi bencana berskala besar. Bantuan ini juga sebagai bentuk kepedulian perusahaan terhadap masyarakat yang sedang menghadapi situasi darurat akibat bencana alam serta kerusakan permukiman dan infrastruktur yang melumpuhkan aktivitas warga.

Dampak Bencana yang Luas dan Kerugian Signifikan
Banjir dan tanah longsor yang melanda Sumatra Barat sejak 22–28 November 2025 menyebabkan dampak kerusakan yang luas. Berdasarkan laporan resmi BPBD Kota Pariaman, bencana ini berdampak pada 7.537 jiwa warga masyarakat, merendam 2.216 rumah, mengakibatkan kerusakan fasilitas umum, jembatan, dan rumah ibadah, dan merusak 961,5 hektare sawah serta puluhan hektare lahan pertanian. Total kerusakan di Kota Pariaman ditaksir mencapai Rp131,6 miliar, dan menjadikannya salah satu daerah dengan dampak terparah pada periode bencana hidrometeorologi kali ini.

Sementara itu, laporan BNPB kepada Presiden Prabowo Subianto pada 7 Desember 2025 mencatat bahwa total kebutuhan pemulihan infrastruktur akibat bencana di tiga provinsi Sumatera — Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat mencapai Rp51,82 triliun. Angka ini menunjukkan besarnya skala pemulihan yang harus dilakukan pemerintah.

PT KIMA Hadir untuk Membantu dari Ujung Timur Indonesia
Dalam sambutannya, Direktur Operasional dan Pendukung PT KIMA menyampaikan bahwa bantuan ini merupakan bentuk rasa empati dan solidaritas dari keluarga besar perusahaan. “Kami mungkin berada jauh di Makassar, tetapi rasa kemanusiaan tidak memiliki jarak. Ketika saudara-saudara kita di Sumatera mengalami musibah, kami merasa terpanggil untuk ikut meringankan beban mereka”. Bantuan yang disalurkan PT KIMA antara lain:

  • makanan siap konsumsi,
  • makanan bayi,
  • paket sembako,
  • pakaian,
  • kain sarung.

Bantuan tersebut diterima langsung oleh Wali Kota Pariaman di Posko BPBD Kota Pariaman dan disaksikan oleh jajaran BPBD, relawan, dan perangkat daerah setempat. Wali Kota atas nama Pemerintah dan warga Kota Pariaman menyampaikan apresiasi atas kepedulian PT KIMA dan berharap bantuan ini menjadi bagian dari dukungan moral bagi warga yang tengah menjalani masa pemulihan.

Mewakili PT Kawasan Industri Makassar (PT KIMA), Direktur Keuangan dan Pengembangan Bisnis, R.B.

PT KIMA Raih Peringkat 3 Pengelola Kawasan Industri Terbaik dalam Penerapan Norma 100

 

 

Mewakili PT Kawasan Industri Makassar (PT KIMA), Direktur Keuangan dan Pengembangan Bisnis, R.B. Alexander Chandra Irawan, menerima penghargaan sebagai Pengelola Kawasan Industri Terbaik Peringkat 3 dalam Penerapan Norma 100 pada ajang “Naker Inspirational Leadership Award 2025”. Penghargaan diserahkan langsung oleh Menteri Ketenagakerjaan RI, Prof. Yassierli, S.T., M.T., Ph.D.

Pemberian penghargaan tersebut, mempertimbangkan beberapa indikator, di antaranya jumlah perusahaan tenant yang melakukan pengisian penilaian Norma100 secara lengkap, persentase perusahaan yang memperoleh nilai di atas 91, serta jumlah perusahaan yang berada di kawasan industri. Pencapaian ini menunjukkan efektivitas pengelolaan kawasan oleh PT KIMA dalam mendorong kepatuhan ketenagakerjaan di lingkungan tenant.

Norma 100 sendiri merupakan instrumen penilaian kepatuhan ketenagakerjaan yang mencakup 100 indikator standar—mulai dari pemenuhan hak dasar pekerja, hubungan kerja, pengupahan, waktu kerja dan istirahat, K3, tata kelola administrasi ketenagakerjaan, hingga fasilitas kesejahteraan pekerja.

Sebagai bagian dari Holding Danareksa, PT KIMA terus memperkuat tata kelola ketenagakerjaan melalui peningkatan layanan dan pendampingan tenant dalam pemenuhan standar kepatuhan.

Bravo KIMA!

PT Kawasan Industri Makassar berpartisipasi dalam Sosialisasi dan Bimbingan Teknis Norma100 yang

PT KIMA Ikuti Sosialisasi dan Bimtek Norma 100 untuk Tingkatkan Kepatuhan Ketenagakerjaan

 

PT Kawasan Industri Makassar berpartisipasi dalam Sosialisasi dan Bimbingan Teknis Norma100 yang diselenggarakan oleh Kementerian Ketenagakerjaan melalui Dirjen Binwasnaker & K3.

Norma 100 merupakan instrumen strategis yang memuat 100 indikator kepatuhan ketenagakerjaan. Acara dihadiri lebih dari 30 pelaku industri dibuka langsung oleh Direktur Bina Pemeriksaan Norma Ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan RI, Bapak Rinaldi Umar, SH, MH, dan Direktur Keuangan & Pengembangan Bisnis PT KIMA, Bapak RB. Alexander Chandra Irawan.

Melalui sosialisasi dan bimbingan teknis ini, PT Kawasan Industri Makassar, sebagai bagian dari Holding BUMN Danareksa, mendorong perusahaan-perusahaan di kawasan industri untuk memahami indikator, mekanisme pengisian, serta alur evaluasi secara lebih komprehensif. Instrumen ini tidak hanya menjadi pedoman pemerintah dalam pembinaan dan pengawasan, namun juga membantu perusahaan melakukan evaluasi mandiri, memetakan area perbaikan, meningkatkan kepastian hukum, serta memperkuat hubungan industrial.

upacara pahlawan

Pahlawan Itu Tidak Selalu Bernama

Oleh: Alif Usman Amin, Direktur Operasional dan Pendukung PT KIMA 

Sudah lebih dari dua pekan sejak Upacara Hari Pahlawan berlangsung di halaman kantor PT Kawasan Industri Makassar, bagian dari Holding BUMN Danareksa. Waktu sudah terus berjalan, aktivitas kawasan sudah kembali seperti biasa, tetapi suasana pagi upacara itu masih tertinggal dalam ingatan banyak orang di sini. Upacaranya sederhana, tidak ada seremonial mewah, hanya bendera merah putih naik perlahan, lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan bersama, dan sirene hening cipta yang membuat Kawasan Industri Makassar yang biasanya ramai mendadak benar-benar senyap.

Momen itulah yang kemudian terasa panjang. Selama satu menit, semua orang berhenti dari rutinitasnya dan seakan diberi kesempatan untuk mengingat, bahwa negeri ini pernah diperjuangkan dengan seluruh tenaga. Sekarang adalah tanggung jawab kita semua untuk menjaganya agar tetap utuh dan mampu berperan strategis dalam era industri global.

Amanat pembina upacara pagi itu menyampaikan kalimat yang sederhana tetapi menancap kuat, pahlawan tidak selalu terlihat. Banyak pahlawan hidup di sekitar kita, hanya saja kita jarang menyebut mereka seperti itu. Kalimat itu terasa sangat relevan untuk tempat seperti Kawasan Industri Makassar. Kita sering mengagumi tokoh besar dalam sejarah, tetapi jarang memperhatikan orang-orang yang memungkinkan industri ini tetap berjalan dari hari ke hari.

Di fasilitas WWTP misalnya, ada petugas yang mengawasi pengolahan air limbah sejak pagi hingga malam. Mereka memastikan proses industri tidak merusak lingkungan sekitar. Mereka jarang tampil di foto portal perusahaan, tetapi kelalaian sekecil apa pun dari mereka bisa berdampak besar bagi kawasan dan masyarakat sekitar. Di reservoar dan jaringan air bersih, ada tim yang bekerja memastikan suplai air ke tenant tetap stabil. Suplai air yang kita anggap wajar itu ternyata ada karena mereka menjaga tekanan, kualitas, dan keberlangsungan jaringan setiap hari.

Di depo kontainer, aktivitas logistik berjalan tanpa henti. Petugas mengatur kontainer, memeriksa dokumen, dan mengoordinasikan kendaraan agar alur produksi dan distribusi tenant tidak terhambat. Tidak ada yang menyoroti beban kerja mereka, tetapi kalau depo berhenti satu jam saja, operasional industri bisa langsung terganggu. Hal serupa terlihat pada tim pemeliharaan jalan kawasan dan drainase. Jalan yang rapi, taman yang terawat, dan selokan yang lancar bukan terjadi begitu saja. Ada orang-orang yang datang sebelum kita tiba di kantor untuk memastikan semuanya siap digunakan.

Mereka semua bekerja tanpa sorotan. Tidak ada upacara untuk menyebut nama-nama mereka. Tidak ada panggung khusus untuk merayakan kontribusi mereka. Namun Kawasan Industri Makassar ini justru ditopang oleh pekerjaan mereka yang mungkin terlihat biasa, tetapi sebenarnya sangat penting. Kalau kepahlawanan didefinisikan sebagai memberi tanpa menuntut imbalan, maka banyak pekerja di kawasan ini sebenarnya sedang melakukan itu setiap hari.

Sesudah upacara Hari Pahlawan selesai, semua kembali ke tugas masing-masing. Mesin mulai terdengar lagi, truk kontainer kembali masuk dan keluar, dan pertemuan kantor kembali berlangsung. Tidak ada perubahan fisik yang terlihat, tetapi banyak orang sepakat bahwa upacara itu membuat kita melihat pekerjaan kita dari sudut yang berbeda. Kita sadar bahwa pekerjaan sehari-hari ini ternyata punya makna lebih besar daripada sekadar rutinitas.

Setiap orang yang bekerja menjaga fasilitas kawasan, menjaga suplai air, mengolah limbah, mengatur logistik, membersihkan gedung, menjaga keamanan, mengelola administrasi, hingga menangani kebutuhan pelanggan di kantor, semuanya sedang memegang satu bagian penting dari stabilitas ekonomi dan keberlangsungan banyak keluarga. Nilai itu yang mungkin selama ini luput dari perhatian, karena kita sudah terlalu terbiasa menyebut “bekerja” seperti sesuatu yang biasa saja.

Hari Pahlawan mengingatkan kita bahwa perjuangan memang berubah bentuk. Masa perjuangan fisik melawan penjajahan sudah selesai. Tetapi perjuangan menjaga Indonesia agar tetap kuat, stabil, aman, dan dihormati bangsa lain masih berlangsung, dan hal ini dilakukan lewat aktifitas yang kita lakukan setiap hari. Disiplin datang tepat waktu, bekerja dengan jujur, menjaga lingkungan perusahaan tetap aman, dan menjalankan tugas tanpa perlu diperintah ulang juga bagian dari cinta tanah air.

Itu sebabnya, pahlawan hari ini tidak harus terkenal. Tidak harus punya nama jalan. Tidak harus jadi tokoh nasional. Pahlawan hari ini bisa siapa saja yang menjalankan tugasnya dengan benar, bahkan ketika tidak ada yang melihat. Dan jika ada tempat yang paling dekat untuk menemukan contoh pahlawan zaman sekarang, Kawasan Industri Makassar adalah salah satunya.

Hari Pahlawan memang sudah berlalu, tetapi maknanya tidak berhenti pada tanggal 10 November. Maknanya justru terasa di hari-hari setelah itu, ketika kita kembali ke rutinitas dan menyadari bahwa apa yang kita kerjakan setiap hari ikut menentukan arah masa depan Kawasan Industri Makassar ini, dan pada akhirnya, ikut menentukan masa depan negeri ini juga.

Pahlawan masa lalu memperjuangkan kemerdekaan. Pahlawan masa kini memastikan kemerdekaan itu memberi kehidupan yang layak. Dan siapa pun yang menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab, baik di WWTP, reservoar, depo kontainer, kantor pusat, lapangan operasional, atau fasilitas lainnya, sedang mengambil bagian dalam perjuangan itu.

Indonesia berdiri hari ini bukan hanya karena sejarah, tetapi karena orang-orang yang bekerja sungguh-sungguh untuk masa depannya.

WhatsApp Image 2025-10-30 at 09.50.20_fe12f3f7

Pemuda Pemudi Bergerak, Indonesia Bersatu

Oleh: Alif Usman Amin, Direktur Operasional dan Pendukung PT KIMA

Selasa pagi tanggal 28 Oktober 2025 ini, halaman kantor PT Kawasan Industri Makassar (KIMA), bagian dari Holding BUMN Danareksa, tampak berbeda. Di bawah langit cerah, Direksi dan Karyawan PT KIMA berdiri tegap melaksanakan upacara bendera Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97 Tahun 2025, yang dilaksanakan sesuai Surat PT Danantara Aset Management (Persero) Nomor SR.017/DI-DAM/HCS/2025 tanggal 23 Oktober 2025.

Dengan tema nasional “Pemuda Pemudi Bergerak, Indonesia Bersatu,” upacara ini bukan sekadar seremonial. Ia menjadi ruang refleksi, bahwa semangat Sumpah Pemuda kini bertransformasi dari tekad kebangsaan menjadi gerakan produktif dan kolaboratif di dunia industri dan digital.

Semangat Pemuda di Persimpangan Hilirisasi dan Digitalisasi

Sembilan puluh tujuh tahun lalu, pemuda-pemudi Indonesia menyatukan ikrar satu bangsa, satu bahasa, satu tanah air. Kini, semangat itu hidup dalam bentuk baru satu komitmen, satu visi, satu kerja nyata membangun ekonomi bangsa.

Bagi Kawasan Industri Makassar (KIMA), bagian dari Holding BUMN Danareksa yang berperan dalam ekosistem industri nasional, semangat itu memiliki makna ganda. Pertama, sebagai satu-satunya kawasan industri BUMN di Kawasan Timur Indonesia, PT KIMA telah diundang oleh Direktorat Hilirisasi Perikanan dan Kelautan untuk membahas rencana pengembangan KIMA sebagai kawasan hilirisasi perikanan dan kelautan nasional yang selaras dengan Asta Cita Presiden dan peta jalan hilirisasi investasi strategis.

Langkah ini bukan kebetulan. Secara geografis, Makassar adalah simpul strategis jalur tol laut, gerbang ekspor-impor kawasan timur, dan penghubung antara pusat produksi hasil laut di Sulawesi, Maluku, dan Papua. Dengan infrastruktur pelabuhan, kawasan industri, dan tenaga kerja muda yang terampil, KIMA memiliki semua syarat untuk menjadi “Blue Industry Hub” Indonesia, pusat pengolahan hasil laut bernilai tambah tinggi, logistik dingin (cold chain), hingga industri kemasan dan ekspor produk maritim.

Hilirisasi perikanan dan kelautan di KIMA tidak hanya memperkuat daya saing ekspor, tetapi akan berdampak pada terciptanya lapangan kerja baru, memperkuat UMKM maritim, dan menstimulasi investasi di sektor energi, air, dan transportasi. Di tengah upaya pemerintah membangun ekonomi berbasis sumber daya terbarukan, KIMA akan menjadi laboratorium ekonomi biru (blue economy) yang memadukan ekologi, efisiensi, dan inovasi.

Kedua, PT KIMA sedang menapaki jalan menuju transformasi digital nasional. KIMA berpotensi masuk dalam peta lokasi potensial pembangunan Pusat Data Nasional dan Infrastruktur Kecerdasan Artifisial (AI Infrastructure). Pertimbangannya jelas, KIMA berstatus Objek Vital Nasional (OVNI), KIMA memiliki infrastruktur listrik yang stabil, PT KIMA mempunyai izin penyelenggara jaringan tertutup (Jartup) melalui media fiber optik teresterial, dan masih tersedianya lahan industri untuk pembangunan data center di KIMA. Apabila proyek ini terealisasi, KIMA tidak hanya menjadi rumah bagi mesin produksi, tetapi juga otak digital yang menopang ekonomi masa depan Kawasan Timur Indonesia.

Kehadiran pusat data dan ekosistem AI di KIMA akan memungkinkan pengelolaan data industri terintegrasi, mendorong efisiensi logistik, memperkuat keamanan informasi, dan membuka peluang besar bagi talenta muda di bidang teknologi informasi, data science, dan rekayasa kecerdasan buatan.

Kombinasi dua agenda besar ini hilirisasi ekonomi biru (hilirisasi perikanan dan kelautan nasional) dan digitalisasi ekonomi hijau (pembangunan Pusat Data Nasional dan Infrastruktur Kecerdasan Artifisial), akan menjadikan KIMA representasi nyata Indonesia yang sedang menyiapkan lompatan besar. Dari negara berbasis komoditas menuju negara berbasis nilai tambah dan pengetahuan.

Kolaborasi dan Komitmen untuk Keberlanjutan

Di tengah momentum transformasi tersebut, KIMA juga memperkuat komitmennya terhadap keberlanjutan lingkungan. Pada tanggal 14 Oktober 2025, PT KIMA dan Pemerintah Kota Makassar telah menandatangani Kesepakatan Bersama tentang Penanganan Sampah Mandiri melalui Pembangunan TPS 3R.

Inisiatif ini mendukung visi Makassar Bebas Sampah 2029 dan pengembangan Makassar Eco Circular Hub, yang menempatkan pengelolaan sampah sebagai bagian dari rantai ekonomi sirkular kota. KIMA menjadi kawasan industri pertama di Kawasan Timur Indonesia yang secara aktif berkolaborasi dengan pemerintah kota dalam penanganan sampah mandiri berbasis 3R (Reduce, Reuse, Recycle).

Fasilitas TPS 3R KIMA akan menjadi model kolaborasi antara sektor industri dan publik dalam mengurangi timbulan sampah ke TPA Antang, meningkatkan efisiensi logistik limbah, dan menciptakan nilai ekonomi dari bahan sisa produksi.

Bagi generasi muda KIMA, kerja sama ini bukan sekadar proyek kebersihan, melainkan simbol perubahan pola pikir—bahwa nasionalisme di era modern berarti menjaga bumi tempat industri berpijak. Generasi muda di KIMA adalah barisan pemuda industri yang tidak hanya berbicara tentang produktivitas, tetapi juga keberlanjutan dan tanggung jawab sosial.

Di lapangan, wajah-wajah muda itu dapat ditemui di berbagai titik, operator yang memastikan WWTP berfungsi optimal, teknisi yang memasang solar panel, analis yang mengelola dashboard lingkungan, hingga staf yang memonitor pengelolaan limbah di tenant. Mereka adalah generasi baru yang bekerja bukan hanya untuk keuntungan, tetapi juga untuk masa depan bumi.

Sumpah Pemuda dalam Bahasa Industri dan Digital

Pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2025 diperkirakan sekitar 3%, sementara Indonesia masih mampu bertahan di angka 5% ditopang oleh hilirisasi sumber daya dan investasi strategis. Namun di balik angka itu, ada faktor penentu yang tidak bisa diabaikan, yaitu peran pemuda sebagai penggerak produktivitas dan inovasi.

Bagi PT KIMA, semangat Sumpah Pemuda kini hidup dalam bentuk baru.

“Satu bangsa” diterjemahkan menjadi satu tujuan pembangunan ekonomi nasional yang inklusif.

“Satu bahasa” berarti bahasa produktivitas, efisiensi, dan keberlanjutan.

Dan “satu tanah air” diwujudkan melalui komitmen menjaga sumber daya alam dan digital bangsa.

Ketika bendera Merah Putih berkibar di halaman kantor PT KIMA, para generasi muda berdiri bukan sekadar sebagai pegawai, tetapi sebagai penjaga masa depan industri bangsa. Mereka adalah generasi yang bekerja di antara dua dunia dunia mesin dan dunia data dan menjadi jembatan yang menyatukan keduanya.

Kawasan Industri Makassar kini bukan sekadar kawasan ekonomi, namun simbol kebangkitan Indonesia Timur. Dari hilirisasi perikanan hingga kecerdasan buatan, dari pengolahan sampah hingga pengolahan data, dari etos gotong royong hingga sinergi digital semua bergerak ke arah yang sama: Indonesia yang bersatu, berdaya, dan berdaulat.

Karena pada akhirnya, Sumpah Pemuda bukan hanya teks sejarah, melainkan energi yang terus hidup di tangan para pemuda yang bekerja, berinovasi, dan berkolaborasi dari halaman industri untuk masa depan negeri.

Refleksi World Cleanup Day KIMA

Dari Halaman Pabrik ke Masa Depan Hijau

Refleksi World Cleanup Day di Kawasan Industri Makassar

Oleh: Alif Usman Amin, Direktur Operasional & Pendukung PT KIMA

Sabtu pagi, 20 September 2025, suasana di Kawasan Industri Makassar berbeda dari biasanya. Bukan deru mesin pabrik atau lalu lintas truk kontainer yang mendominasi, melainkan suara sapu lidi yang menyapu halaman, gelak tawa pekerja yang berbaur dengan warga, dan derap langkah bersama mengangkat tumpukan sampah.

Hari itu, PT Kawasan Industri Makassar (KIMA) menggelar Gerakan Gotong Royong Kerja Bakti Massal, bagian dari peringatan World Cleanup Day (WCD) 2025 sekaligus tindak lanjut Surat Edaran Walikota Makassar Nomor 277 Tahun 2025. Surat edaran ini menyerukan seluruh lapisan masyarakat, termasuk kawasan industri, untuk turun tangan dalam aksi bersih-bersih serentak di seluruh kota.

Di KIMA, kegiatan dipusatkan pada tiga titik strategis. Pertama, kantor pusat, simbol komitmen manajemen bahwa pengelolaan lingkungan adalah tanggung jawab utama, bukan sekadar formalitas. Kedua, depo kontainer, simpul logistik kawasan yang sehari-hari padat aktivitas bongkar muat dan rawan timbulan sampah. Ketiga, gedung instalasi pengolahan air limbah (WWTP), jantung sistem sanitasi kawasan yang menjadi penentu kualitas air dan lingkungan. Dengan memilih tiga titik ini, KIMA ingin menegaskan bahwa gotong royong kebersihan bukan hanya seremonial, tetapi menyentuh urat nadi kawasan industri: manajemen, logistik, dan lingkungan hidup.

Krisis Sampah: Global hingga Makassar

WCD adalah gerakan dunia yang kini melibatkan jutaan relawan di lebih dari 190 negara. Data global menunjukkan produksi plastik mencapai 435 juta ton per tahun, dengan tingkat daur ulang masih di bawah 10%. Indonesia pun menghadapi masalah serupa: timbulan sampah nasional 35 juta ton per tahun, dengan sekitar 40% belum terkelola dan tingkat daur ulang baru 22%. Data ini menunjukkan masih panjang jalan yang harus ditempuh agar Indonesia benar-benar masuk jalur circular economy.

Makassar menghadapi tantangan nyata. TPA Antang menampung 900–1.300 ton sampah per hari, dengan gunungan yang telah mencapai 40–50 meter. Risikonya bukan hanya lingkungan, tetapi juga kesehatan dan sosial. Jika tidak ada perubahan sistemik, krisis sampah kota akan semakin parah.

Gotong Royong sebagai Titik Balik

Dalam konteks itulah kegiatan gotong royong di kawasan industri mendapat makna lebih dalam. Di kantor pusat KIMA, manajemen dan pekerja bergabung menyapu halaman, memungut plastik, hingga menanam tanaman hias. Pesannya jelas: komitmen lingkungan harus dimulai dari ruang kerja sehari-hari.

Di depo kontainer, para pekerja logistik yang biasanya sibuk dengan bongkar muat turut serta mengumpulkan sampah kardus, plastik pembungkus, hingga sisa kayu palet. Aktivitas ini menegaskan bahwa efisiensi logistik harus berjalan seiring dengan pengelolaan limbah yang baik.

Sementara di gedung WWTP, para teknisi dan staf kebersihan membersihkan area sekitar instalasi, mengecek saluran, dan memastikan sistem pengolahan air limbah berfungsi optimal.

Gotong royong serupa juga telah dilakukan rutin setiap minggu oleh PT KIMA. Program ini diberi nama GEMPITA, dan digagas untuk membudayakan kepedulian lingkungan dan kebersihan pada area kerja. Sesuai namanya, GEMPITA adalah akronim dari Gerakan Membersihkan Pekarangan Ta’. Maka itulah, pekarangan kantor atau pabrik tenantlah yang menjadi lokasi kegiatan.

Program ini sudah berjalan selama dua tahun, sehingga sudah banyak dampak positif yang dirasakan. Bukan hanya pekarangan yang bersih atau lahirnya budaya bersih pada karyawan dan tenant, namun terasa juga pada makin cairnya komunikasi Manajemen PT KIMA dengan tenant dan investor di KIMA. Banyak ide dan persoalan tidak harus dibahas lewat undangan rapat diforum formal, namun cukup dengan pegang sapu lidi dan ditemani gorengan hangat.

Aksi simbolik dan program ini menunjukkan bahwa keberlanjutan kawasan bukan hanya soal tampilan luar, melainkan fungsi teknis yang menjaga lingkungan dari pencemaran.

Dari Aksi Sehari ke Agenda Hijau

Melalui aksi gotong royong ini, Kawasan Industri Makassar ingin mengirim pesan: kebersihan kawasan adalah fondasi daya saing. Tidak mungkin berbicara tentang investasi, ekspor, dan pertumbuhan industri jika lingkungan di sekitar pabrik kotor dan penuh risiko.

Kami menargetkan pengurangan sampah dari KIMA ke TPA minimal 30% dalam tiga tahun ke depan, membangun fasilitas daur ulang bersama (Material Recovery Facility) di lokasi TPS 3R, mengembangkan komposting dan RDF untuk sampah organik dan residu, menerapkan efisiensi energi serta solar panel pada atap gudang dan gedung, serta membuat dashboard lingkungan berbasis data yang transparan.

Lima agenda ini bukan sekadar jargon, tetapi peta jalan konkret agar Kawasan Industri mampu bergerak menuju ekonomi sirkular.

Selaras dengan Arah Regulasi Nasional

Langkah KIMA juga selaras dengan dinamika nasional. Saat ini, Rancangan Undang-Undang (RUU) Kawasan Industri tengah dibahas. Draf usulan menegaskan bahwa setiap kawasan industri wajib memiliki AMDAL, IPAL, dan jaringan persampahan. Kawasan juga diwajibkan menyediakan infrastruktur dasar hijau seperti energi terbarukan, sanitasi, telekomunikasi digital, dan fasilitas penelitian.

RUU ini bahkan menyiapkan insentif fiskal dan nonfiskal bagi kawasan industri yang menjalankan praktik berkelanjutan, sekaligus menekankan pemberdayaan masyarakat sekitar melalui pelatihan, pendidikan, dan kemitraan dengan UKM.

Dengan demikian, aksi KIMA hari ini adalah gambaran mini dari arah regulasi nasional yang sebentar lagi menjadi undang-undang.

Dari Halaman Pabrik ke Masa Depan Hijau

World Cleanup Day mungkin hanya berlangsung sehari, tetapi semangatnya harus hidup sepanjang tahun. Dari kantor pusat yang bersih dan tertata, depo kontainer yang lebih rapi, hingga WWTP yang terus dijaga kinerjanya—semua itu adalah simbol transformasi hijau yang sedang dijalankan Kawasan Industri Makassar.

Karena industri tidak bisa tumbuh di bumi yang sakit. Dari halaman pabrik di Makassar, kami ingin menegaskan bahwa masa depan hijau bukan sekadar cita-cita, melainkan sebuah kewajiban.

Sebuah warisan yang harus dijaga demi keberlanjutan, daya saing, dan generasi yang akan datang.